Aku gak pernah menginginkan keadaan seperti ini, menjadi orang lain untuk membahagiakan orang lain. Aku acuh pada keadaan hati, aku buta pada cinta, aku tega menyakiti diri. aku begitu sangat mencintainya, tapi dia begitu tega menyakitiku, dia bisa merubahku, tapi dengan cara yang perlahan-lahan, bukan dengan melukai, bukan dengan paksaan secara tidak langsung, jujur saja semua ini sangat menyiksaku.
Dia tidak bisa menghargaiku, dia bahkan tidak bisa memintaku secara lembut, dia menuntutku, dia menyakitiku, dan aku terima. Apakah aku yang bodoh??ataukah aku sudah buta??aku mencari kebahagiaan bukan siksaa, tapi aku memilih siksaan untuk satu kata "cinta". Memang sulit dipercayai ada lelaki bodoh seperti aku, dia meyakinkan aku, tapi dia meruntuhkan aku, aku lebur, aku kacau, aku remuk, aku giiilllllaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........!!!!!!!!aaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh............!!!!siapa saja yang membaca tulisan ini, anda sedang membaca rintihan seorang seniman gila, dia gila karna cinta, di bunuh oleh rasa cinta.
Aku malu dengan perasaan ini, aku malu dengan diri ini, aku malu harus menjadi pecundang, pecundang yang dipermalukan perasaan cinta. Mengapa aku harus jatuh cinta???aku sudah terlanjur jatuh dalam lembah kesengsaraan ini. Sudahlah, aku tidak perlu berfikir lebih dalam lagi, aku jalani semuanya, semuanya tanpa memikirkan siapapun, jika memang dia menerimaku, dia akan menikah denganku, jka tidak, aku memilih sendiri untuk selamanya.
Sabtu, 19 Oktober 2013
Apa aku harus kalah lagi...???aku mencintai profesiku sebagai seorang pelukis, tidak ada niatan menyaingi ciptaan ALLAH sekalipun, apa bedanya lukis dengan foto...???yang terpenting menurutku lukisan yang aku buat tidak jatuh pada orang yang salah, bukan diciptakan untuk disembah, aku juga paham aturan melukis dalam agamaku.
Aku mencintai bakat ini, tidak ada seorangpun yang boleh menghalangiku bahkan tidak ada yang bisa menghalangiku, untuk masalah ini, aku rela meninggalkan orang yang aku cinta jika ia melarangku untuk melukis, aku rela, iya, aku rela, karena melukis sudah menjadi kesatuan dalam batinku. Aku mencintai seni, dan aku tidak akan meninggalkan keindahan ini.
Jumat, 20 September 2013
Tidak perlu menanyakan siapa aku, panggil saja aku ayam, iya, ayam, sebutan untuk manusia cengeng seperti aku dan aku cowok tapi aku cengeng. sempat aku menyesalkan tentang hubungan ini, lama sudah aku menjalin sebuah hubungan asmara hingga aku tidak bisa lepas untuk tidak memilirkannya. Karier, kuliah, bahkan cita-cita seolah terlupa hanya karena urusan asmara. merasa dengan adanya hubungan ini jelas membuatku terlalu bergantung pada setiap keadaan yang ada didalamnya. bodohnya aku tidak pernah berfikir untuk menyudahinya saja, aku lebih memilih untuk bertahan, hatiku tak sampai untuk melukai diri sendiri.
Jika orang bertanya apa aku mencintainya...???iya. aku sangat begitu mencintainya, walau dengan sejuta perbedaan, antara kelembutan dan kekakuan. Bahkan aku sudah lua kapan terakhir tersenyum lepas, kapan terakhir hidup berfikir untuk sebuah cita-cita. Kini yang terbesit dikepalaku hanya bagaimana caraku untuk membahagiakannya, bukan bagaimana caraku untuk membahagiakan hati sendiri. Bukan berarti aku tidak bahagia, aku bahagia saat dia bahagia, aku tersenyum saat dia tersenyum, bahkan aku bisa sangat merasa berarti saat dia tertawa.
Aku tidak pernah berpaling dari keadaan ini, dengan semua kerumitan dalam diriku, hanya cintalah sebagai benang merah pengikat kita, aku juga tidak meragukan ketulusan cintanya, tapi sekali lagi aku butuh sosok lembut dalam hidupku, bukan orang lain, tapi dia, hanya dia. Betapa sejuk batin ini andai hal semacam itu banar-benar terjadi.
Mungkin dia bisa acuh dengan keberadaanku untuk bersenang-senang dan meraih cita-citanya. Tapi bagaimana dengan aku...???aku,,,seperti dia ketahui, aku akan banyak diam ditempat yang sunyi untuk mendinginkan hati yang panas saat berselisih, atau ketika harapan tak sampai karena harus mengalah, dan mungkin memang selalu aku yang salah. aku tidak bisa meluapkannya di facebook, apalagi keseluruhan apa yang sedang aku rasakan, ada sekat-sekat yang membatasi, iya, membatasi, memberikan label "LABIL" bagi orang yang tidak punya teman sepertiku, bukan berarti aku ingin mengumbar masalah, tapi aku hanya perlu ruang untuk meluapkan segalanya, karena bibirpun tak sanggup berucap langsung, memang benar seperti itu adanya, aku takut "KEHILANGAN".
Mungkin dia bisa acuh dengan keberadaanku untuk bersenang-senang dan meraih cita-citanya. Tapi bagaimana dengan aku...???aku,,,seperti dia ketahui, aku akan banyak diam ditempat yang sunyi untuk mendinginkan hati yang panas saat berselisih, atau ketika harapan tak sampai karena harus mengalah, dan mungkin memang selalu aku yang salah. aku tidak bisa meluapkannya di facebook, apalagi keseluruhan apa yang sedang aku rasakan, ada sekat-sekat yang membatasi, iya, membatasi, memberikan label "LABIL" bagi orang yang tidak punya teman sepertiku, bukan berarti aku ingin mengumbar masalah, tapi aku hanya perlu ruang untuk meluapkan segalanya, karena bibirpun tak sanggup berucap langsung, memang benar seperti itu adanya, aku takut "KEHILANGAN".
Cinta ini memang buta, maka aku tidak bisa melihat keindahan lain, tak bisa berfikir secara jernih, karena yang aku fikirkan hanyalah bagaimana aku bisa hidup bahagia dengannya walau dengan berbagai komplikasi diantara perpaduan hati dan tingkah yang dibatasi.
Sebetulnya aku benci menulis, aku terlalu banyak menyimpannya sendiri, hanya sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)